Logo HKBP

HKBP

Renungan Harian HKBP

Minggu, 26 April 2026

Na BontarJUBILATE

HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAKSORAK

22Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. 23Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. 24Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. 25Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 26Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, 27sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 28Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.

Ulaon ni Apostel 2 : 22 - 28· Terjemahan Baru

Renungan Evangelium

Ulaon ni Apostel 2 : 22 - 28

Doa Pembuka: Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui akal dan pengertianmu, itulah kiranya yang memelihara hati dan pikiranmu. Di dalam Yesus Kristus Tuhan. Amin. Bapak Ibu, saudara/i sekalian yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Firman Tuhan di Minggu tanggal 26 April 2026, di minggu Jubilate diambil dari Kisah Para Rasul 2 : 22-28. Saya akan bacakan, Demikian Firman Tuhan: 22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. 23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. 24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. 25 Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 26 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, 27 sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 28 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih Dalam Nama Tuhan, Kisah Para Rasul 2:22–28 adalah bagian dari khotbah Rasul Petrus pada hari Pentakosta. Dalam bagian ini, Petrus dengan berani menyampaikan siapa Yesus sebenarnya kepada orang banyak. Ia tidak hanya berbicara tentang mukjizat Yesus, tetapi juga tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang sudah dinubuatkan sebelumnya. Renungan ini mengajak kita untuk melihat kembali karya Allah yang besar melalui Yesus Kristus, serta memahami makna kebangkitan-Nya bagi kehidupan kita saat ini. Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, pada ayat 22, Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah pribadi yang telah dinyatakan oleh Allah melalui berbagai mukjizat, tanda, dan perbuatan ajaib. Artinya, kehidupan Yesus bukanlah sesuatu yang tersembunyi atau diragukan. Semua yang Ia lakukan adalah bukti nyata bahwa Ia diutus oleh Allah. Namun, meskipun bukti itu jelas, banyak orang tetap menolak-Nya. Ayat 23 mengandung kebenaran yang mendalam: Yesus diserahkan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas penyaliban-Nya. Ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, Allah berdaulat penuh atas sejarah. Tidak ada satu pun yang terjadi di luar rencana-Nya. Kedua, manusia tetap memiliki tanggung jawab atas tindakan mereka. Penyaliban Yesus bukanlah kecelakaan, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah. Kemudian pada ayat 24, Petrus menegaskan bahwa Allah membangkitkan Yesus, melepaskan Dia dari kuasa maut. Kematian tidak dapat menahan-Nya. Ini adalah inti dari iman Kristen: kebangkitan Yesus. Tanpa kebangkitan, kematian Yesus hanya akan menjadi tragedi. Namun karena Ia bangkit, kematian berubah menjadi kemenangan. Ayat 25–28 mengutip mazmur Daud yang berbicara tentang keyakinan akan penyertaan Allah dan kemenangan atas maut. Petrus menjelaskan bahwa Daud sebenarnya sedang menubuatkan tentang Mesias. Yesus adalah penggenapan dari janji tersebut. Ia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan tubuh-Nya tidak mengalami kebinasaan. Ini menegaskan bahwa kebangkitan Yesus sudah direncanakan sejak lama dalam rencana Allah. Bagi kita hari ini, bagian ini memberikan pengharapan yang kuat. Jika Yesus telah mengalahkan maut, maka kita yang percaya kepada-Nya juga memiliki pengharapan akan kehidupan kekal. Kita tidak lagi hidup dalam ketakutan akan kematian, karena kematian bukanlah akhir. Selain itu, kita juga diingatkan untuk percaya pada rencana Allah, bahkan ketika kita tidak memahaminya sepenuhnya. Penyaliban Yesus tampak seperti kekalahan, tetapi justru menjadi jalan kemenangan. Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Kisah Para Rasul 2:22–28 mengajarkan kita bahwa Yesus adalah pusat dari rencana keselamatan Allah. Ia mati sesuai dengan kehendak Allah, tetapi bangkit dalam kemenangan yang sempurna. Kebangkitan-Nya memberi kita harapan, kekuatan, dan keyakinan untuk menjalani hidup. Mari kita hidup dalam iman kepada Kristus yang bangkit, tidak lagi dikuasai oleh ketakutan, melainkan dipenuhi dengan sukacita dan pengharapan. Dan seperti Petrus, kiranya kita juga berani menjadi saksi atas kebenaran ini di tengah dunia. Doa Penutup: Terima kasih Ya Tuhan Allah, untuk FirmanMu yang telah kami dengar. Ajari kami untuk selalu bersyukur memiliki Engkau, ajarkan kami bahwa betapa bahagianya kami karena Engkau begitu mengasihi kami. Dengan bimbingan rohMu, kami akan melakukan FirmanMu untuk kemuliaan namaMu. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan selamanya hanya ke dalam tangan pengasihanMu. Di dalam Yesus Kristus kami berdoa. Amin

Renungan Epistel

1 Kronika 16 : 28 - 36

Doa Pembuka:Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui akal dan pengertianmu, itulah kiranya yang memelihara hati dan pikiranmu. Di dalam Yesus Kristus Tuhan. Amin. Bapak, Ibu, saudara/i sekalian yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Firman Tuhan di Epistel Minggu tanggal 26 April 2026, di minggu Jubilate diambil dari 1 Tawarikh 16 : 28-36. Saya akan bacakan, Demikian Firman Tuhan: 28 Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! 29 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan. 30 Gemetarlah di hadapan-Nya hai segenap bumi; sungguh tegak dunia, tidak bergoyang. 31 Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja!" 32 Biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, 33 maka pohon-pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. 34 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 35 Dan katakanlah: "Selamatkanlah kami, ya TUHAN Allah, Penyelamat kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu." 36 Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: "Amin! Pujilah TUHAN!" Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih Dalam Nama Tuhan, bagian dalam 1 Tawarikh 16:28–36 merupakan bagian dari nyanyian syukur yang dinaikkan ketika tabut perjanjian Tuhan dibawa ke Yerusalem. Dalam suasana sukacita dan penyembahan, umat Israel diajak untuk memuliakan Tuhan atas kebesaran dan kesetiaan-Nya. Ayat-ayat ini tidak hanya menjadi ungkapan pujian pada masa itu, tetapi juga menjadi panggilan bagi setiap orang percaya untuk hidup dalam penyembahan yang sejati kepada Tuhan. Melalui renungan ini, kita diajak untuk memahami bagaimana seharusnya sikap hati kita di hadapan Allah yang mulia. Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Pada ayat 28–29, umat diajak untuk memberi kepada Tuhan kemuliaan dan kekuatan yang menjadi hak-Nya. Ini menunjukkan bahwa penyembahan bukan sekadar aktivitas lahiriah, melainkan pengakuan bahwa Tuhanlah sumber segala sesuatu. Memberi kemuliaan kepada Tuhan berarti menempatkan-Nya sebagai yang terutama dalam hidup kita. Tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap hati dan tindakan sehari-hari. Kita diajak untuk datang ke hadapan-Nya dengan persembahan, yang dapat dimaknai sebagai hidup yang berkenan kepada-Nya. Ayat 30 mengingatkan bahwa seluruh bumi harus gemetar di hadapan Tuhan. Ini menggambarkan kebesaran dan kekudusan Allah yang melampaui segalanya. Kesadaran akan keagungan Tuhan seharusnya menumbuhkan rasa hormat dan takut akan Tuhan dalam hidup kita. Takut akan Tuhan bukan berarti takut dalam arti negatif, tetapi sikap hormat yang mendalam dan kesadaran bahwa kita hidup di hadapan Allah yang kudus. Selanjutnya pada ayat 31–33, seluruh ciptaan diajak untuk bersukacita. Langit, bumi, laut, dan segala isinya digambarkan memuji Tuhan. Ini menunjukkan bahwa penyembahan kepada Tuhan bersifat universal tidak hanya manusia, tetapi seluruh ciptaan memuliakan Dia. Sukacita ini berakar pada keyakinan bahwa Tuhan memerintah sebagai Raja dan Ia datang untuk menghakimi bumi dengan adil. Penghakiman Tuhan bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi orang yang hidup benar, melainkan kabar sukacita karena keadilan akan ditegakkan. Ayat 34 menegaskan bahwa Tuhan itu baik dan kasih setia-Nya untuk selama-lamanya. Ini adalah inti dari penyembahan: mengingat dan mengakui kebaikan Tuhan. Dalam berbagai situasi hidup, baik dalam suka maupun duka, kasih setia Tuhan tidak pernah berubah. Kesadaran ini memberi kita kekuatan untuk tetap bersyukur dalam segala keadaan. Pada ayat 35–36, umat memohon keselamatan dan pembebasan dari bangsa-bangsa lain, sekaligus memuji Tuhan yang kekal dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Ini menunjukkan bahwa penyembahan juga mencakup doa dan pengharapan kepada Tuhan. Kita tidak hanya memuji, tetapi juga bersandar kepada-Nya dalam setiap kebutuhan kita. Respons umat yang berkata “Amin” dan memuji Tuhan menegaskan kesatuan hati dalam menyembah Allah. Bagi kita saat ini, bagian ini mengajarkan bahwa penyembahan sejati melibatkan seluruh hidup kita. Bukan hanya pada saat ibadah, tetapi dalam setiap aspek kehidupan. Kita dipanggil untuk memuliakan Tuhan, hidup dalam takut akan Dia, bersukacita dalam kebaikan-Nya, dan tetap berharap kepada-Nya dalam segala keadaan. Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di dalam Nama Tuhan, 1 Tawarikh 16:28–36 mengingatkan kita bahwa Tuhan layak menerima segala kemuliaan, hormat, dan pujian. Ia adalah Raja atas seluruh bumi, penuh kasih setia, dan adil dalam segala jalan-Nya. Melalui renungan ini, kita diajak untuk memperbarui komitmen kita dalam menyembah Tuhan dengan segenap hati. Kiranya hidup kita menjadi persembahan yang hidup bagi Tuhan, penuh dengan ucapan syukur dan pujian. Dan dalam setiap langkah kehidupan, kita terus mengakui bahwa Tuhan itu baik, dan kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya. Amin. Doa Penutup: Terima kasih Ya Tuhan Allah, untuk FirmanMu yang telah kami dengar. Ajari kami untuk selalu bersyukur memiliki Engkau, ajarkan kami bahwa betapa bahagianya kami karena Engkau begitu mengasihi kami. Dengan bimbingan rohMu, kami akan melakukan FirmanMu untuk kemuliaan namaMu. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan selamanya hanya kedalam tangan pengasihanmu. Di dalam Yesus Kristus Kami Berdoa. Amin.
Chris Desina Sianturi

Penulis Renungan

Chris Desina Sianturi

Pelayan HKBP

Bacaan Alkitab

Evangelium

Ulaon ni Apostel 2 : 22 - 28

Epistel

1 Kronika 16 : 28 - 36

HATIKU BERSUKACITA DAN JIWAKU BERSORAKSORAK — Minggu, 26 April 2026 | Renungan HKBP