Doa Pembuka:Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui akal dan pengertianmu, itulah kiranya yang memelihara hati dan pikiranmu. Di dalam Yesus Kristus Tuhan. Amin.
Bapak, Ibu, saudara/i sekalian yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus Firman Tuhan di Epistel Minggu tanggal 26 April 2026, di minggu Jubilate diambil dari 1 Tawarikh 16 : 28-36. Saya akan bacakan, Demikian Firman Tuhan:
28 Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!
29 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.
30 Gemetarlah di hadapan-Nya hai segenap bumi; sungguh tegak dunia, tidak bergoyang.
31 Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja!"
32 Biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya,
33 maka pohon-pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi.
34 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
35 Dan katakanlah: "Selamatkanlah kami, ya TUHAN Allah, Penyelamat kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu."
36 Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: "Amin! Pujilah TUHAN!"
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih Dalam Nama Tuhan, bagian dalam 1 Tawarikh 16:28–36 merupakan bagian dari nyanyian syukur yang dinaikkan ketika tabut perjanjian Tuhan dibawa ke Yerusalem. Dalam suasana sukacita dan penyembahan, umat Israel diajak untuk memuliakan Tuhan atas kebesaran dan kesetiaan-Nya. Ayat-ayat ini tidak hanya menjadi ungkapan pujian pada masa itu, tetapi juga menjadi panggilan bagi setiap orang percaya untuk hidup dalam penyembahan yang sejati kepada Tuhan. Melalui renungan ini, kita diajak untuk memahami bagaimana seharusnya sikap hati kita di hadapan Allah yang mulia.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di Dalam Nama Tuhan, Pada ayat 28–29, umat diajak untuk memberi kepada Tuhan kemuliaan dan kekuatan yang menjadi hak-Nya. Ini menunjukkan bahwa penyembahan bukan sekadar aktivitas lahiriah, melainkan pengakuan bahwa Tuhanlah sumber segala sesuatu. Memberi kemuliaan kepada Tuhan berarti menempatkan-Nya sebagai yang terutama dalam hidup kita. Tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap hati dan tindakan sehari-hari. Kita diajak untuk datang ke hadapan-Nya dengan persembahan, yang dapat dimaknai sebagai hidup yang berkenan kepada-Nya. Ayat 30 mengingatkan bahwa seluruh bumi harus gemetar di hadapan Tuhan. Ini menggambarkan kebesaran dan kekudusan Allah yang melampaui segalanya. Kesadaran akan keagungan Tuhan seharusnya menumbuhkan rasa hormat dan takut akan Tuhan dalam hidup kita. Takut akan Tuhan bukan berarti takut dalam arti negatif, tetapi sikap hormat yang mendalam dan kesadaran bahwa kita hidup di hadapan Allah yang kudus. Selanjutnya pada ayat 31–33, seluruh ciptaan diajak untuk bersukacita. Langit, bumi, laut, dan segala isinya digambarkan memuji Tuhan. Ini menunjukkan bahwa penyembahan kepada Tuhan bersifat universal tidak hanya manusia, tetapi seluruh ciptaan memuliakan Dia. Sukacita ini berakar pada keyakinan bahwa Tuhan memerintah sebagai Raja dan Ia datang untuk menghakimi bumi dengan adil. Penghakiman Tuhan bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi orang yang hidup benar, melainkan kabar sukacita karena keadilan akan ditegakkan. Ayat 34 menegaskan bahwa Tuhan itu baik dan kasih setia-Nya untuk selama-lamanya. Ini adalah inti dari penyembahan: mengingat dan mengakui kebaikan Tuhan. Dalam berbagai situasi hidup, baik dalam suka maupun duka, kasih setia Tuhan tidak pernah berubah. Kesadaran ini memberi kita kekuatan untuk tetap bersyukur dalam segala keadaan. Pada ayat 35–36, umat memohon keselamatan dan pembebasan dari bangsa-bangsa lain, sekaligus memuji Tuhan yang kekal dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Ini menunjukkan bahwa penyembahan juga mencakup doa dan pengharapan kepada Tuhan. Kita tidak hanya memuji, tetapi juga bersandar kepada-Nya dalam setiap kebutuhan kita. Respons umat yang berkata “Amin” dan memuji Tuhan menegaskan kesatuan hati dalam menyembah Allah. Bagi kita saat ini, bagian ini mengajarkan bahwa penyembahan sejati melibatkan seluruh hidup kita. Bukan hanya pada saat ibadah, tetapi dalam setiap aspek kehidupan. Kita dipanggil untuk memuliakan Tuhan, hidup dalam takut akan Dia, bersukacita dalam kebaikan-Nya, dan tetap berharap kepada-Nya dalam segala keadaan.
Bapak/Ibu, saudara/i yang terkasih di dalam Nama Tuhan, 1 Tawarikh 16:28–36 mengingatkan kita bahwa Tuhan layak menerima segala kemuliaan, hormat, dan pujian. Ia adalah Raja atas seluruh bumi, penuh kasih setia, dan adil dalam segala jalan-Nya. Melalui renungan ini, kita diajak untuk memperbarui komitmen kita dalam menyembah Tuhan dengan segenap hati. Kiranya hidup kita menjadi persembahan yang hidup bagi Tuhan, penuh dengan ucapan syukur dan pujian. Dan dalam setiap langkah kehidupan, kita terus mengakui bahwa Tuhan itu baik, dan kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya. Amin.
Doa Penutup: Terima kasih Ya Tuhan Allah, untuk FirmanMu yang telah kami dengar. Ajari kami untuk selalu bersyukur memiliki Engkau, ajarkan kami bahwa betapa bahagianya kami karena Engkau begitu mengasihi kami. Dengan bimbingan rohMu, kami akan melakukan FirmanMu untuk kemuliaan namaMu. Kami serahkan hidup kami hari ini, esok dan selamanya hanya kedalam tangan pengasihanmu. Di dalam Yesus Kristus Kami Berdoa. Amin.