Doa Pembuka:
Allah Bapa yang kami sembah di dalam Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Kami bersyukur atas semua nikmat hidup yang telah Tuhan berikan pada kami. Tuntunlah kami, ya Tuhan, agar terus mensyukuri hidup kami dan senantiasa terhubung pada-Mu. Terlebih, dalam memahami dan menghidupi Firman-Mu. Amin.
Bapak/Ibu dan Saudara/i yang dikasihi Tuhan.
Kalau kita melihat keadaan sekarang dengan jujur, kita hidup di tengah begitu banyak informasi yang datang sangat cepat. Semua terasa mudah diakses, tetapi justru karena itu, hal yang benar dan penting sering kali tidak lagi diperhatikan. Di saat yang sama, banyak orang sibuk membangun relasi dengan sesama, tetapi perlahan melupakan relasinya dengan Tuhan. Ada juga yang berusaha menjadi yang terbaik, tetapi tidak selalu diarahkan kepada Tuhan. Bahkan dalam beberapa situasi, Tuhan hanya diingat ketika masalah menghampiri hidupnya. Dari sini mungkin akan timbul pertanyaan, apa sebenarnya yang bisa memperbaiki keadaan seperti ini?
Dalam 2 Tawarikh 7:14, Tuhan berbicara tentang umat-Nya, “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa, mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” Dari sini terlihat bahwa yang ditekankan bukan cara, tetapi siapa yang memulai. Tuhan menunjuk umat-Nya sendiri sebagai awal dari pemulihan itu.
Kalau kita lihat konteksnya, bangsa Israel mengalami kehancuran karena mereka berpaling dari Tuhan. Bahkan setelah masa pembuangan, mereka masih bergumul dengan ketidaktaatan. Karena itu, ajakan dalam teks ini bukan sekadar ajakan biasa, tetapi sebuah panggilan untuk kembali dengan sungguh-sungguh. Pemulihan tidak dimulai dari keadaan saat ini, tetapi dari hati yang kembali diarahkan kepada Tuhan.
Hal yang sama juga bisa terjadi dalam hidup kita sekarang. Kadang kita datang kepada Tuhan dengan syarat, seolah-olah kita baru mau taat kalau Tuhan terlebih dahulu menolong. Padahal yang Tuhan inginkan adalah hati yang mau datang tanpa syarat. Bukan hubungan yang muncul hanya saat butuh, tetapi hubungan yang terus dijaga dan dipertahankan.
Itu sebabnya sikap yang disebutkan dalam ayat ini penting. Merendahkan diri berarti kita sadar bahwa kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri. Berdoa dan mencari Tuhan berarti kita membangun relasi dengan Dia secara terus-menerus. Berbalik dari jalan yang jahat berarti ada perubahan yang nyata dalam hidup, bukan hanya sekedar merasa bersalah atau menyesal tetapi benar-benar mengambil keputusan untuk berubah.
Maka akhirnya, Tuhan akan mendengar, mengampuni, dan memulihkan. Urutannya juga jelas. Tuhan melihat hati yang mau kembali, lalu Ia bekerja lewat hati itu. Jadi kalau kita ingin melihat keadaan berubah, baik dalam hidup pribadi maupun di sekitar kita, itu tidak bisa dilepaskan dari bagaimana kita sendiri membangun relasi dengan Tuhan. Bukan sekadar menjalani kebiasaan tentang Tuhan, tetapi sungguh hidup bersama Tuhan. Amin.
Doa Penutup
Kami memuji Engkau, ya Allah Bapa, yang setia mengasihi kami di tengah kerapuhan hati kami menghadapi berbagai persoalan hidup. Karena itu, tolonglah kami, ya Tuhan, melalui Roh Kudus-Mu agar kami dikuatkan dan senantiasa dituntun hidup taat, seperti yang dilakukan Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Amin.