"Jadi ro ma hata ni si Samuel tu sandok Israel songon on: Molo tung mulak hamu tu Jahowa sian nasa rohamuna, sai paholang hamu ma angka debata sileban sian tongatongamuna, ro di angka sombaon Astarot, jala marsihohot rohamuna tu Jahowa, jala sasada Ibana oloi hamu, asa dipalua hamu sian tangan ni halak Palistim.

Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.""

1 Samuel 7 : 3

๐๐„๐‘๐’๐€๐Œ๐€ ๐Œ๐„๐๐‚๐€๐‘๐ˆ ๐’๐Ž๐‹๐”๐’๐ˆ ๐”๐๐“๐”๐Š ๐†๐„๐‘๐„๐‰๐€ ๐˜๐€๐๐† ๐‹๐„๐๐ˆ๐‡ ๐‘๐€๐Œ๐€๐‡ ๐ƒ๐€๐ ๐“๐„๐‘๐๐”๐Š๐€ - ๐ƒ๐ข๐ฌ๐ค๐ฎ๐ฌ๐ข ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐Ÿ” ๐๐ž๐ง๐๐ž๐ญ๐š ๐Œ๐ฎ๐๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐š๐ฌ๐š๐ฅ ๐๐š๐ซ๐ข ๐’๐ฎ๐ฆ๐š๐ญ๐ž๐ซ๐š ๐”๐ญ๐š๐ซ๐š

("๐‘†๐‘’๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘โ„Ž๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘‡๐‘œ๐‘”๐‘’๐‘กโ„Ž๐‘’๐‘Ÿ ๐‘“๐‘œ๐‘Ÿ ๐‘๐‘’๐‘ค ๐‘Š๐‘Ž๐‘ฆ๐‘  ๐‘œ๐‘“ ๐‘€๐‘Ž๐‘˜๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐ถโ„Ž๐‘ข๐‘Ÿ๐‘โ„Ž ๐‘€๐‘œ๐‘Ÿ๐‘’ ๐‘Š๐‘’๐‘™๐‘๐‘œ๐‘š๐‘–๐‘›๐‘” - ๐‘Ž ๐‘‘๐‘–๐‘ ๐‘๐‘ข๐‘ ๐‘ ๐‘–๐‘œ๐‘› ๐‘ค๐‘–๐‘กโ„Ž ๐‘ ๐‘–๐‘ฅ ๐‘ฆ๐‘œ๐‘ข๐‘›๐‘” ๐‘๐‘Ž๐‘ ๐‘ก๐‘œ๐‘Ÿ๐‘  ๐‘“๐‘Ÿ๐‘œ๐‘š ๐‘๐‘œ๐‘Ÿ๐‘กโ„Ž ๐‘†๐‘ข๐‘š๐‘Ž๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž ๐‘–๐‘› ๐ผ๐‘›๐‘‘๐‘œ๐‘›๐‘’๐‘ ๐‘–๐‘Ž" )

Prancis, HKBP.or.id - Ada banyak sekali hal-hal tak terduga dalam perjalanan Eropa untuk studi banding mengenai Taizรฉ . Awalnya, kami hanya mengambil dua jenis program. Pertama, mengikuti rutinitas keseharian di Komunitas Taizรฉ. Kedua, mengikuti program Silent atau hening-berdiam diri.


Tanpa diduga, Bruder Alois, Pimpinan komunitas Taizรฉ meminta kami untuk memamparkan topik apa saja mengenai gereja HKBP di hadapan para peziarah di Taizรฉ, baik orang muda maupun dewasa. 

Entah apa yang membuat tim dari HKBP dengan spontan menjawab: "Siap. Kami menerimanya dengan senang hati, Bruder."

Di hadapan 50an peserta yang hadir dalam workshop tersebut, kami membagikan pengalaman dan pemahaman bahwa HKBP sejak awal sudah sangat "welcoming" - (baca: ramah menyambut) kepada semua orang. Hal itu ditandai dengan konsep pargodungan yang dikembangkan oleh para missionaris. Dimana gereja didirikan sebagai pusat tumbuh kembang rohani dan jasmani. Tak hanya gereja, tapi turut dibangun klinik, sekolah, serta pusat peternakan atau pertanian (perekonomian). Sehingga, masyarakat Batak kala itu yang sangat menginginkan kehidupan yang lebih baik, datang berduyun-duyun ke gereja.


Dalam perkembangannya, aktivitas pelayanan gereja HKBP dalam 1 minggu membuat gereja menyambut semua warganya melalui pelayanan terhadap semua kelompok kategorial dan usia dengan penelahaan alkitab, kebaktian rumah tangga (partangiangan), dan latihan paduan suara. Aktivitas pelayanan itu umumnya terlaksana mulai dari hari Senin sampai Minggu.

Tidak hanya itu, gereja HKBP juga terbuka dengan ODHA (orang dengan HIV-AIDS) serta teman-teman disabilitas/difable selama 100 tahun terakhir. Tim dari HKBP juga menyampaikan informasi keseriusan terhadap teman disabilitas dengan Pembaptisan Kudus dan Peneguhan Iman oleh Ompu i Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, yang diprakarsai oleh Distrik Bekasi. 


Tak hanya di dalam, HKBP juga inklusif dan dialogis dalam hubungan antar denominasi dan antar agama. Dalam kegiatan tertentu, HKBP turut serta berbagi lahan parkir bila umat beragama lainnya sedang berhari raya, bahkan turut serta memberikan hewan dalam kegiatan Idul Kurban dan berbagi pada saat Idul Fitri. 

Dalam sesi diskusi, banyak orang muda dan dewasa silih berganti memberi pertanyaan dan tanggapan yang luar biasa. Mereka terheran-heran karena aktivitas pelayanan tersebut tetap membuat setiap orang antusias dan mengambil peran aktif di gereja. Sementara, di sisi mereka, khususnya pemuda Eropa, ketertarikan mereka untuk datang dan berperan di gereja semakin menurun.


Para Bruder di Taizรฉ juga turut mengapresiasi kehadiran 6 orang sekaligus, utusan dari satu denominasi gereja. Sebab, biasanya yang dikirim hanya 1-3 orang dari tiap denominasi.

Catatan:

Kendati disebutkan 6 pendeta muda asal Sumatera Utara, itu dalam rangka menolong para peserta/peziarah membaca papan pengumuman. Pada sesi perkenalkan, kami memperkenalkan diri, bawa ada 3 pendeta, 1 calon pendeta, dan 2 diakones. (SKE_JFS)

Pustaka Digital