"Pesta Parningotan Ari Hananaek Ni Tuhan Jesus
Topik: Gabe Sitindangi Ni Kristus Tu Sandok Portibi On (Menjadi Saksi Kristus Sampai ke Ujung Bumi)"

Ev: Ulaon ni Apostel 1:6-11/Ep: Psalmen 68:8-19

Program Pencegahan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)

Kamis, 25 November 2021 secara virtual melalui Zoom, HKBP AIDS Ministry (HAM) menyelenggarakan Seminar HIV AIDS dan Program Pencegahan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). Seminar ini dimoderasi oleh Diak. Oka Nurhayati Harianja dan dihadiri sebanyak 66 kaum Ibu/Ina dari beberapa Distrik HKBP. Seminar ini adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh HKBP (dalam hal ini lembaga HKBP AIDS Ministry) untuk menyongsong peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) pada 01 Desember 2021. Seminar ditujukan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan HIV, khususnya para kaum Ibu.


Seminar diawali dengan doa pembuka dari salah seorang peserta, yakni Pdt. Tiarasi Siahaan (utusan dari PPD Distrik V Sumatera Timur). Kegiatan ini dibuka oleh Ketua HKBP AIDS Ministry, dr. Tihar Hasibuan, MARS. Turut hadir Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt. Debora Sinaga, M. Th untuk menyampaikan bimbingan kepada peserta yang hadir, bahwa Seminar HIV ini sangat penting bagi kaum Ibu agar kaum perempuan yang hadir dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sehingga bisa mengantisipasi pencegahan dan pengendalian HIV AIDS.


Sesi pertama oleh Diak. Berlina Sibagariang menyampaikan tentang HIV AIDS, dengan topik “Bersama Perempuan menuju Ending AIDS 2021". Paparannya mengajak para kaum Ibu untuk ikut serta menjadi informator HIV AIDS bagi keluarga, sesama perempuan dan masyarakat karena banyaknya perempuan yang terpapar HIV dari pasangan. Mereka mendapat stigma dan diskriminasi dari keluarga dan masyarakat, disalahkan oleh pihak suami serta menjadi orangtua tunggal dalam mengasuh anak akibat suami yang meninggal karena mengidap AIDS.


Testimoni dari salah satu dampingan HKBP AIDS Ministry, Tiffani Marpaung, seorang ibu yang terpapar HIV dari suaminya. Anaknya juga positif HIV karena beliau terlambat mengetahui status HIV nya. Suami tidak pernah jujur dan tidak bersedia untuk dirawat inap ke Rumah Sakit, padahal sudah mengidap banyak infeksi penyerta. Setelah dicek darah HIV, hasilnya positif. Suaminya meninggal dunia saat Tiffani masih mengandung. Dari kisah hidupnya, Tiffani berpesan kepada kaum ibu untuk lebih mengenal pasangan, menjalin komunikasi yang baik dan tetap semangat dalam menjalani kehidupan demi anak-anak yang dikasihi.

Selanjutnya sesi kedua dilanjutkan oleh dr. Basaria Lumbangaol, M. Kes. Beliau menjelaskan tentang “Program Pencegahan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)". Penjelasannya kepada kaum Ibu mengenai informasi bahwa seorang Ibu yang positif HIV tidak secara otomatis menularkan kepada bayi. Anak yang terpapar HIV dari ibunya dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ketidaktahuan status HIV Ibu sehingga melahirkan secara normal dan memberikan ASI kepada bayi. Itulah sebabnya perlu bagi setiap pasangan sebelum menikah untuk melakukan cek darah HIV. Dengan demikian, bisa dilakukan program kehamilan sekalipun pasangan tersebut sama-sama mengidap HIV, sehingga anak-anak yang lahir akan menjadi anak yang sehat. Untuk semua peserta yang hadir, dr. Basaria juga menyarankan perlu melakukan cek darah HIV supaya mengetahui status HIV masing-masing.


Seluruh peserta antusias dalam Seminar, dengan mengajukan pertanyaan baik melalui room chat maupun secara langsung. Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian doorprize kepada tiga orang pemenang yang berhasil menjawab 3 pertanyaan dengan benar dan foto bersama. Kemudian Seminar ditutup oleh Bapak dr. Tihar Hasibuan, MARS, serta doa penutup oleh Diak. Ristua Sirait.


Semoga kegiatan ini dapat mendorong kebijakan di Gereja serta kaum Ibu untuk peduli dalam pencapaian ending AIDS 2030.


HKBP menjadi berkat