"Ia parholong ni roha, ndang diulahon na jahat tu angka dongan;

Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia"

Rom 13:10a

BERIBADAH KEPADA TUHAN DENGAN SETIA


Minggu (12/5), Kepala Departemen Marturia HKBP mengujungi jemaat HKBP Marturia Ressort Lintongnihuta I Distrik XVI Humbang Habinsaran. HKBP Marturia ini terletak ditepi jalan lintas Lintongnihuta (pasar lama), di depan gereja HKBP Marturia ini terlihat pemandangan sawah yang indah. Lokasi gereja HKBP Marturia ini memang saat ini sudah layak untuk diperlebar lahannya, sebab ibadah minggu, jemaat sudah ada yang duduk di luar, begitu juga dengan pekarangan parkir yang masih tegolong cukup untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Saat ini HKBP Marturia dilayani oleh Ibu Pdt. Raya Siagian. Jemaat HKBP Marturia ini memiliki pekerjaan sebagai petani dilahan sendiri, seperti petani padi, kopi dan lain-lain.

Pada kesempatan kali ini, ibu kadep melayani ibadah minggu di HKBP Marturia yang masuk pada pukul 10.00 Wib. Di dalam ibadah, ada beberapa persektuan yang mempersembahkan lagu pujian kepada Tuhan, diantaranya: persekutuan generasi muda, persekutuan ibu, persekutuan bapak. Warta jemaat masih, dibacakan oleh salah seorang sintua dari mimbar tanpa fotocopy yang  biasanya dapat dimiliki oleh jemaat. Satu lagi kekhususan jemaat ini masih menggunakan papan tulis untuk nomor nnyanyian, epistel dan evanggelium setiap minggunya. Dalam khotbah ibu kadep menjelaskan Ezra 6:13-18, Pentingkah ibadah?  Suatu pertanyaan yang Perlu kita renungkan. Bila jawabanya Penting beribadah Karna itu Dan Sebaliknya jika itu tidak berdampak pada terhadap kehidupan apalagi untuk konteks sekarang Ini,  banyak orang beribadah tetapi tidak membawa perubahan yang signifikan terhadap sekitarnya. Melalui nas Ini menolong kita Semua melihat bagaimana mereka (bangsa Israel) membutuhkan tempat peribadahan untuk Menuju kebesaran Tuhan Allah yang melambaikan mereka dari pembuangan Babel. Ester  seorang Imam tapi Ada yang menurut nabi yang memimpin rombongan kedua orang-orang buangan yang kembali ke Babel ke Yerusalem pada thn 459 - 458 SM dengan Surat tugas dari Raja Artahsasta, Raja Koresh dan raja Darius. Mereka adalah Raja Persia. Dalam nas Ini dijelaskan Bagaimana juga kepercayaan 3 Raja itu bersama para tua-tua orang Yehudi membangun rumah ibadah termasuk pesan nabi Hagai Dan nabi Zakaria. Setelah rumah ibadah itu selesai dibandingkan maka dilakukanlah penyerahan/penahbisan rumah Tuhan dengan sukacita(ayt 16) oleh orang Israel, para Imam, orang-orang lewi Dan orang-orang asing yang pulang dari Babel. Kehiduan penahbisan itu terjadi. Mereka mempersembahkan lembu jantan 100 Ekor (ayt 17) setelah itu diangkat imam Dan orang Lewi menjadi pelayan di rumah ibadah Di Yerusalem.


Apakah yang dapat kita maknai dari nas ini?

1. Kebutuhan rumah Ibadah sebagai tempat penyembahan kepada Tuhan Allah.

2. Keterlibatan banyak pihak untuk membangun

3.Mempersiapkan pelayan untuk melayani dirumah ibadah.

Pokok ini dapat kita refleksikan bersama-sama,

1.Kebutuhan rumah ibadah

Pada umumnya  orang Kristen berusaha membangun rumah ibadah begitu megah. Pembangunannya bernostalgia Milyaran. Mungkin Ada yang sampai meminjam. Sepertinya Sudah menjadi budaya dimana-mana, termasuk di gereja HKBP. namun 1 pertanyaan yang Perlu direnungkan, Apakah rumah ibadah yang dimana megahnya Sudah menjadi Kebutuhan atau keinginan daging kita samakah? Rumah ibadah adalah Kebutuhan Karena disitulah kita bersekutu dengan Tuhan dalam nyanyian, Doa, memberi persembahan Dan mendengarkan Firman Tuhan. Bukan Betapa besar biaya pembangunan rumah ibadah tetapi fungsi rumah ibadah itu benar-benar berguna  untuk keimanan umat.

2. Keterlibatan banyak pihak untuk membangun.

Pembangunan gereja pada umumnya untuk masyarakat Lokal tidak banyak telibat dari unsur Luar apalagi pemerintah. Jemaat itu  bahu membahu dengan Berbagai Cara untuk mengumpulkan dana pembangunan. Semangat jemaat Sangat Luar biasa. Namun ada Saja dijemaat dijumpai tidak mampu membangun dengan sendirinya. Sebagaimana nas Ini menjelaskan bangsa Israel dari pembuangan Babel Namun disediakan rumah ibadah yang dibangun bersama-sama  dari unsur pemerintah, para tua-tua Yahudi Dan nabi pada zaman itu adalah kita bisa mencontoi apa yang dilakukan mereka yakni melibatkan banyak pihak untuk membangun rumah ibadah? Sulit sekali hal ini bisa diwujudkan, apalagi berada didaerah kemajemukan/Pluralism. Bahkan yang terjadi pelarangan mendirikan  rumah ibadah (gereja)  dengan tidak memberi izin. Alasannya mengganggu Warga  masyarakat.  Bisa kita lihat di SKB 2 menteri (menteri agama Dan menteri dalam negri). Salah satu syarat yakni dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa. Sampai SKB2 Menteri telah terjadi dalam tubuh gereja. HKBP ciketing, HKBP Pondok Kalapa, HKBP filadelfia. Mereka tidak diberitahu izin untuk membangun/memakai gereja yang Sudah mereka milikMu. Marilah kita memberi perhatian Dan Doa agar mereka merasakan kebenaran beribadah.

3.Mempersiapkan Pelayan

Syarat berdiri gereja harus Ada pelayan yang dipersiapkan. berdasarkan almanaK HKBP 2015 bahwa jumlah jemaat /gereja sebanyak 3320, Sementara jumlah pelayan 2754. Jadi dapat disimpulkan Masih Kurang para pelayan. HKBP masih membutuhkan para pelayan. Bukan hanya berbicara jumlah pelayan tetapi dibutuhkan pelayan yang berkualitas sehingga pelayanan dapat berjalan dengan baik. Minggu Kantate mengajak kita untuk beribadah sungguh-sungguh yang menggambarkan suatu nyanyikan baru ditujukan kepada Tuhan.

Sebelum menjelaskan khotbah, ibu kadep memperkenalkan diri, tenyata sebelumnya ibu kadep pernah melayani di HKBP Lintongnihuta tahun 1992. Setelah ibadah selesai, jemaat dan parhalado memebrikan salam sekalian mengenang kembali sejarah ditahun 1992, ibu kadep pendeta praktek di HKBP Lintongnihuta sabungan ada banyak kisah yang terukir dengan jemaat dan parhalado. Kenangan itu juga masih dapat diingat dengan jelas, bahwa ada beberapa jemaat bahkan parhalado yang mengingat hal itu dengan jelas. Rasa sukacita semakin bertambah karena ada diantara jemaat yang mengatakan sewaktu ibadah selesai, bahwa dulu ia masih anak sekolah minggu inang kadep, ada juga yang mengatakan bahwa dulu sintua ini masih tiga tahun jadi sintua di HKBP Lintongnihuta. Canda tawa semakin pecah akibat cerita itu kembali dikenang sewaktu melakukan salaman sehabis pulang gereja. Setelah melakukan salamanm, rombongan ibu kadep dijamu makan bersama di kantor gereja HKBP Marturia. Sewaktu makan bersama, terjalin diskusi ringan bersama dengan parhalado, tanpa disangka-sangka akan kembali ketemu dengan ibu Pdt. Anna Pangaribuan semenjak 27 tahun yang lalu. Kiranya melalui pelayanan ibu kadep membangun semangat dan kerajinan jemaat HKBP Marturia untuk berkantate, secara khusus di HKBP Marturia ini yang mempunyai makna untuk bersaksi akan kabar baik. (JLS)












comments

Leave a Reply