"Jadi ro ma hata ni si Samuel tu sandok Israel songon on: Molo tung mulak hamu tu Jahowa sian nasa rohamuna, sai paholang hamu ma angka debata sileban sian tongatongamuna, ro di angka sombaon Astarot, jala marsihohot rohamuna tu Jahowa, jala sasada Ibana oloi hamu, asa dipalua hamu sian tangan ni halak Palistim.

Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.""

1 Samuel 7 : 3

Dari Dalam untuk HKBP Tarabunga: Rayakan Jubileum HKBP Tarabunga ke-125 Tahun (1897-2022)


BALIGE - hkbp.or.id - Jika umumnya sebuah gereja lahir karena dikirimnya pekabar Injil (missionaris) dari luar untuk membangun atau mendirikan sebuah gereja di satu tempat tertentu, justru sebaliknya yang terjadi pada HKBP Tarabunga. Sejarah HKBP Tarabunga berawal dari peristiwa di mana beberapa orangtua dari Tarabunga sedang melihat-lihat "parmingguon" di Lumban Hariara (1881) dan kemudian menjadi tergerak hati Ompu Laum Siahaan bersama dengan teman-teman kaum Ama untuk membentuk persekutuan lokal sehingga lahirlah kemudian HKBP Tarabunga. 


Adapun buah pekerjaan iman dari pekabaran Injil tersebut adalah dibaptisnya Kampung Op. Laum Siahaan, Ama ni Hosing Siahaan dan Ama ni Bale Siahaan pada tahun 1893. Jemaat yang semakin bertumbuh ini, pada tahun 1895 berkeinginan mendirikan gereja. Maka berdirilah HKBP Tarabunga tahun 1897 yang kini genap berusia 125 tahun. 



Berdasarkan inilah pada kunjungan Ephorus, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar dalam rangka Jubileum ke-125 Tahun  HKBP Tarabunga memulai kotbahnya dengan mengatakan "Kerajaan Allah seumpama mutiara yang indah" (Mat. 13:45-46). Hal ini mengingat bahwa gereja HKBP Tarabunga seperti mutiara yang indah dan berharga. 


Tentu dalam proses perjalanannya sampai pada sekarang ini, HKBP Tarabunga memiliki beragam pergumulan yang diantaranya adalah pembangunan fisik gereja. Bahkan ada jemaat yang sampai mengatakan, "Na so mangan be ruas on ala ni gareja on?" Namun dengan doa yang teguh dan sehati sepikir, ditambah lagi kesadaran bahwa jemaat ini adalah mutiara yang indah, akhirnya Tuhan memampukan jemaat HKBP Tarabunga menjawab persoalannya. Tanah gereja yang awalnya adalah milik satu orang, kemudian menjadi milik beberapa keluarga. Tidak cukup sampai di situ, jemaat pun akhirnya bergotong royong untuk menyelesaikan persoalan pembangunan. Penyertaan Tuhan pada jemaat HKBP Tarabunga pun dirasakan hingga 29 Juni 1997 HKBP Tarabunga resmi berumur 100 tahun, dan semakin banyak yang dibaptis, sehingga tepatlah ungkapan "Hakristenon Batak = Mutiha na Arga (di Hita)".



Untuk itulah pada Jubileum HKBP Tarabunga yang ke-125 Tahun, Acara Mameakhon Batu Ojahan, dan Mangompoi Gareja, Ephorus dalam khotbahnya, mengingatkan jemaat agar memiliki sikap mengasihi, "Kita harus mengasihi Allah, mengasihi alam semesta yang Tuhan beri untuk kita ditempat ini" (sebagaimana Kitab Ulangan yang mengatakan ingatlah dan jangan lupakan). Selain memiliki sikap yang mengasihi, jemaat juga diajak untuk mengajarkan Hukum dan Firman Allah kepada anak-anak mereka, karena Firman itu sangat dekat dengan kita sebagaimana yang tertulis dalam Ulangan 30:14. Jemaat juga diingatkan agar tetap taat menjaga iman kepada Kristus, memelihara iman, dan melakukan Firman Allah dalam kehidupannya. Hal ini mengingat bahwa Allah telah menyertai jemaat HKBP Tarabunga dalam melalui proses panjang hingga merayakan Jubileum ke-125 Tahun pada 10 Juli 2022 ini. 



(VSLH)

Pustaka Digital