"Dung i ninna Jahowa ma tu ibana: “Dame ma di ho! Unang ho mabiar, ndang mate ho ala ni i. Dung i dipauli si Gideon ma disi langgatan sada di Jahowa, jala dibahen goarna: Jahowa haroroan ni hatuaon”. Rasirasa sadarion sai disi dope i di Opra, pinompar ni Abieser nampunasa.

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.” Lalu Gideon mendirikan mezbah disana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer."

Panguhum 6: 23-24

Sekjen HKBP Mendukung Optimalisasi Peningkatan Kualitas SP Immanuel

Sekjen Minta Biro Informasi Mencari Cetakan SP Immanuel Pertama Kali Terbit

Sekjen HKBP Pdt David Sibuea memberikan kata sambutan dan sesi pada pertemuan koresponden SP Immanuel HKBP yang dimoderatori Kabiro Informasi Pdt Arthur Lumbantobing

Telah diselenggarakan pertemuan koresponden Surat Parsaoran (SP) Immanuel pada 26 – 27 Februari 2019 di Parapat. Sekretariat Jenderal HKBP melalui Biro Informasi menyelenggarakan kegiatan ini dalam upaya peningkatan kualitas SP Immanuel, majalah resmi HKBP, supaya semakin tajam dan faktual memberikan informasi kepada seluruh warga dan pelayan HKBP.

Kegiatan ini dihadiri 24 peserta dari 14 distrik di sekitaran wilayah Sumatra Utara. Pertemuan ini dilakukan bertahap, pertama dari wilayah Sumatra Utara dan kemudian ke wilayah-wilayah lainnya. Sekretaris Jenderal Pdt David Farel Sibuea MTh DMin, yang juga merupakan Pemimpin Umum SP Immanuel, menyambut peserta dengan hangat sebelum membuka resmi kegiatan.

Dalam kalimat pertama sambutannya, ia mengatakan, SP Immanuel merupakan juga jati diri HKBP. “Kita tentu tidak bisa mengenal HKBP tanpa SP Immanuel. Lewat SP Immanuel kita mengetahui siapa, apa, dan bagaimana HKBP dalam masa lalunya. Sebelum Indonesia merdeka. SP Immanuel sudah ada. Begitu pula dengan HKBP. Sebelum NKRI merdeka, HKBP sudah ada. HKBP lebih tua dari NKRI. Begitu pula dengan SP Immanuel lebih tua dari NKRI,” paparnya.

Sekjen juga menjelaskan, SP Immanuel merupakan dokumen bersejarah HKBP yang kini berusia 129 tahun.  Pertemuan koresponden ini, salah satunya, merupakan upaya regenerasi kepada warga dan pelayan HKBP yang lebih muda supaya mengenal SP Immanuel dan merawatnya. Selain itu, pembentukan koresponden SP Immanuel ini untuk mengoptimalkan pemberitaan dari jemaat lokal, ressort dan distrik.

“Isi SP Immanuel bukan (hanya) berita pimpinan  HKBP, namun (berita) semua HKBP di mana pun, sehingga kita mengetahui di mana pun HKBP berada. Karenanya, kita sampaikan ke distrik-distrik,” tuturnya.

Ia mengimbau kepada redaksi untuk mendalami SP Immanuel, terutama dari berita-berita terdahulu. Sekjen meminta kepada Biro Informasi untuk mencari cetakan pertama SP Immanuel terbit.

“Carilah dulu SP Immanuel yang pertama sekali terbit. Apakah itu di Jakarta, Jerman, atau di mana pun! Carilah dulu dan jadwalkan dalam perjalanan kalian (biro informasi) supaya kita tahu bagaimana bentuknya dulu, bagaimana tulisannya dulu!” pintanya.

Ia juga meminta kepada setiap koresponden untuk meliput, menulis berita sehingga berkelanjutan berita dari distrik-distrik tersebut dan oplahnya semakin meningkat. Hingga kini, majalah SP Immanuel dicetak sebanyak 3200 eksemplar. Menjawab tantangan zaman global ini, Sekjen juga mengimbau redaksi untuk membuat digitalisasi SP Immanuel supaya dapat diakses melalui media elektronik.

Seusai memberikan kata sambutan, Sekjen memberikan sesi Media dan Gereja kepada para peserta.

Ephorus HKBP memberikan arahan dan bimbingannya kepada peserta di hari kedua, Kamis (27/2). Kegiatan ini mengundang pembicara untuk melakukan pelatihan jurnalistik, yaitu Bantors Sihombing. Juga pembicara memotivasi pelayanan dan pekerjaan koresponden yaitu St Prof Albiner Siagian. Biro Informasi – DM

comments

Leave a Reply

Pustaka Digital